Tampilkan postingan dengan label Macet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Macet. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Oktober 2012

Jalur Nagreg ke Arah Timur Masih Macet

AppId is over the quota
KOMPAS/RADITYA HELABUMI Jalur Gentong - Kendaraan melintasi jalur Gentong yang menghubungkan Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat, Sabtu (4/8/2012). Jalur ini merupakan salah satu kawasan rawan kemacetan parah selain di Nagreg saat arus mudik Lebaran.

BANDUNG, KOMPAS.com — Jalur Nagreg arah ke timur atau Tasikmalaya dan Garut kembali dilanda kemacetan total sejak pagi hari akibat padatnya lalu lintas yang menuju obyek wisata di jalur itu, Selasa (21/8/2012). Selain itu, di jalur Nagreg-Limbangan juga terjadi kemacetan di dua arah akibat arus lalu lintas dari barat maupun dari timur cukup padat.

Kemacetan mengunci di Jalur Cikaledong akibat berbaur dengan kendaraan yang melintas ke jalur Garut. Sementara itu, bau rem dan kopling menyengat di tanjakan curam memasuki kawasan Leuweung Tiis di Kadungora Garut.

Arus balik Lebaran 2012 sudah meningkat sejak Selasa pagi, khususnya di jalur dari Tasikmalaya hingga Nagreg. Sedangkan memasuki jalan Lingkar Nagreg cukup lancar. Kendaraan berpelat nomor Jakarta, Bogor, maupun Priangan berkonvoi menuju barat nyaris tidak putus dari Ciawi-Malangbong-Nagreg. Titik-titik ketersendatan masih tetap terjadi di jalur Gentong, Malangbong, Pasar Lewo, dan Limbangan yang terus memanjang dan kian parah.

"Kepadatan jalur terjadi sejak Selasa dini hari, mereka memburu bisa meluncur mulus di jalur pada pagi hari, ternyata banyak yang melakukan perjalanan pagi hari sehingga terjadi kepadatan," kata Bripka Sofian, anggota Polres Bandung.

Polisi melakukan sistem tutup buka di jalur Limbangan untuk memecah kepadatan. Ketidakdisiplinan pengendara sepeda motor menambah parah kepadatan di jalur itu.

Sama halnya di kawasan jalur Nagreg-Garut ke arah timur yang juga macet hingga ke kawasan obyek wisata Cipanas Garut. Kemacetan diperparah di beberapa persimpangan, seperti di simpang tiga Kadungora dan simpang Leles.

Arus lalu lintas jalur Garut, selain limpahan kendaraan yang hendak menuju Tasikmalaya dan Jateng, juga berbaur dengan lalu lintas wisata ke jalur Cipanas. Sedangkan arus lalu lintas dari jalur Kadungora-Nagreg-Cicalengka cukup lancar, termasuk di tanjakan Leuweung Tiis.

Kamis, 30 Agustus 2012

Jalur Mudik Lintas Barat Sulawesi Macet 3 Kilometer

AppId is over the quota
KOMPAS.com/ Junaedis Lantaran tak dijaga petugas lalulintas dan LLAJR, sejumlah jembatan darurat di jalur lintas barat sulawesi tepatnya di Pinrang sulawesi selatan, terjebak kemaectan panjang hingga 3 kiometer. Para pengendara saling salib hingga kemacetan makin sulit terurai

PINRANG, KOMPAS.com - Arus mudik dengan kemacetan parah ternyata bukan hanya di Pulau Jawa dan Sumatera. Di jalur perlintasan jembatan darurat di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pun terjadi kemacetan hingga 3 Kilometer.

Kemacetan yang terjadi salah satunya disebabkan tidak ada petugas yang mengatur arus lalu lintas di jembatan yang sempit itu. Padahal, jembatan itu amat strategis posisinya. Jembatan yang terletak di Desa Datae, Kecamatan Duampanua Pinrang ini berada di lintas barat Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Selatan dan propinsi lain di sekitarnya seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Barat dan daerah lain di sekitarnya.

Nah, di saat masih dalam suasana arus mudik seperti ini, pengemudi-pengemudi kendaraan roda empat dari arah berlawanan tidak ada yang mau mengalah. Para pengendara saling rebutan agar bisa melintasi jembatan kecil itu. Padahal, lebar jembatan hanya mampu memuat satu mobil saja.

Kejadian ini, menurut kesaksian salah satu warga, sudah terjadi dua hari ini. Petugas Dinas LLAJR pun tidak terlihat.

Sejumlah warga yang prihatin dengan kondisi kemacetan panjang itu sempat berusaha membantu mengatur lalu lintas. Namun sejumlah pengendara malah menolak diatur.

"Tak ada pengendara yang mau diatur, malah mereka saling salib seenaknya, makanya macet seperti ini. Apalagi tidak ada petugas," ujar Ria, warga setempat.

Warga pun akhirnya memilih menghentikan turun tangan dan membiarkan kemacetan yang membuat stres para pengendara dan warga, di lokasi yang panas dan semburan debu yang makin padat.